Journey log : bandung – Solo – Wonogiri Bagian 2 ->Sampai di Solo dan Aktivitas di Gereja
Nalikane ing tirtonadi
Ngenteni tekane bis wayah wengi
Tanganmu tak kanthi
Kowe ngucap janji
Lungo mesti bali
Ini dia, cuplikan lirik Terminal Tirtonadi ciptaan Didi Kempot. Lirik ini benar-benar terlupakan dan aku coba ingat-ingat setelah aku sampai di terminal Tirtonadi Solo. Saking penasarannya, sampai tanpa malu tanya ke Rini. Yang teringat waktu itu adalah lirik ini :
Ning stasiun balapan
Kuto solo sing dadi kenangan
Kowe karo aku
Naliko ngeterke lungamu
Mungkin gara-gara batal naik kereta Bandung-Solo. 
Sesampainya di Terminal, waktu telah menunjukkan pukul 7.30. Hal ini menyimpulkan bahwa semua estimasi sebelumnya meleset. Estimasi sebelumnya adalah sampai di Solo jam 6.00. Kalau gereja mulai pukul 8.00 maka aku akan telat mengikuti misa. Pikirku waktu itu : bisa jadi malah sudah selesai, kalau angkutan dari Solo-Wonogiri butuh waktu lama dan acara di gereja hanya berdurasi 1 jam saja. Begitu tahu diri bakal telat, pilihannya ada 2 : mandi di terminal atau mandi di gereja setelah misa. Rencana sebelumnya adalah mandi di gereja sebelum misa dimulai. Tapi setelah melihat kondisi kamar mandi di terminal, aku memutuskan untuk mandi di gereja setelah misa saja. Alasan keamanan lebih utama daripada alasan kebersihan. Takut Handycam hilang. Setelah itu, langsung aja beli aqua botol dan cari angkutan ke Wonogiri.
Gila, dalam semalam, aku cuman minum 1 aqua botol ukuran 600 ml(kalau tidak salah) itu.. Padahal paginya, aku sempet makan 2 burger (McDonalds paket paling hemat
, yang dibeli ketika sebelum bis berangkat di Bandung). Jadi saat itu bisa dibayangkan : haus banget! Makanya langsung cari aqua botol sebelum masuk ke angkutan.
Setelah menikmati perjalanan Solo-Wonogiri, akhirnya sampai juga ke terminal Giriadipura, Wonogiri. Selama perjalanan, aku banyak melihat perilaku sopir dan kenek-nya, berhubung aku duduk paling depan. Setelah diamat-amati, cara sopir dan kenek menawarkan jasa angkutannya ini jauh lebih sopan bila dibandingkan dengan cara sopir dan kenek Bandung menawarkan jasanya. Juga dari cara mengemudi sopirnya , sopir Solo mengemudi jauh lebih baik daripada sopir angkutan Bandung. Kenapa ya? Entahlah..
Aku tidak masuk terminal, tapi memaksakan diri untuk turun depan terminal. Mau tau alasannya? Karena peta yang discan Beni dari undangannya Erli memperlihatkan kalau jalan dari terminal ke gereja cukup dekat, walaupun aku tahu, rasio di petanya Erli dipertanyakan dan tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Bersemangat sekali, terlalu bersemangat mungkin, karena sudah sukses mencapai kota Wonogiri, sampai-sampai lupa mencatat waktu.
Untungnya, tak berapa jauh dari lampu merah terdekat, ada pos polisi. Untuk meyakinkan dan untuk mempercepat, aku langsung menuju pos polisi itu. Aku bertanya pada salah satu petugas di sana. Dan ternyata, aku disarankan untuk naik angkutan saja. “Ancer-ancer”-nya adalah perempatan BRI(seperti yang tertulis di peta->artinya betul). Akhirnya, aku naek angkudes. Untunglah naik angkutan itu, sebab ternyata jalan menuju perempatan BRI jauh bo.. Belok kanan kiri kanan kiri.. Tidak sesimple yang ada di peta. Untunglah.. 
Turun di perempatan BRI, dan sedikit jalan, akhirnya sampai di gereja katolik Wonogiri.
Begitu sampai di gereja, pikiran pertama adalah : aku pernah ke gereja ini. Kapan? Waktu acara Jaringan Komunikasi(Jarkom) semasa SMA dulu. Di tempat/gereja inilah aku, dengan tanpa malu, menawarkan Van Lith sebagai tuan rumah Jarkom. Hahaha.. Kalau diingat-ingat lagi, kejadiannya rada-rada memalukan juga. Aku, yang waktu itu sengaja tidak tidur semalaman, pas rapat bersama pun aku ketiduran, kok bisa-bisanya menawarkan Van Lith sebagai tuan rumah. Mau tau cerita dibalik kesengajaan tidak tidur semalaman? Jawabnya : mencari kenalan cewek Solo donk..
Btw, itu cerita masa lalu, lanjut ke masa sekarang. Setelah melewati gerbang gereja, aku langsung bertanya pada orang yang pas kebetulan lewat. “Apa ada misa pernikahan? Di lantai 2 ya?” Jawab orang itu adalah : “iya”. Singkat padat jelas, menyimpulkan bahwa misa pernikahan masih berlangsung. Aku telat, tapi tidak sampai melewatkan misa pernikahan Erli, asal misa pernikahan yang masih berlangsung adalah misa pernikahannya Erli. 
FYI, gereja katolik Wonogiri itu besar dan bagus sekali.
Sedikit informasi mengenai gereja ini, saking besarnya gereja, di Wonogiri hanya butuh satu kali dan memang hanya ada satu kali misa mingguan, yaitu minggu pagi. Satu kali misa sudah cukup untuk menampung semua penduduk katolik Wonogiri. Itu saja aku rasa tempatnya masih sisa. Bayangkan, di Kudus saja ada tiga kali misa untuk misa mingguan. Bayangkan kalau ada orang yang tidak bisa bangun pagi di hari minggu pagi yang cerah, seorang mahasiswa contohnya. Jelas satu kali misa adalah alasan yang bagus untuk melewatkan misa mingguan.. 
Setelah naik ke lantai 2 gereja, hal pertama yang aku lakukan adalah menanyakan kepada salah seorang dari pasangan yang sedang duduk-duduk di lantai 2. “Apa benar ini misa pernikahan Erli dan Bekti?” Betul-betul takut salah waktu itu.
Begitu tahu bahwa benar misa yang berlangsung adalah misanya Erli, langsung saja merangkapi kaos oblong yang dipakai saat itu dengan kaos berkerah warna putih. Lalu masuk ke gereja, sambil “celingak-celinguk” cari teman-teman seangkatan.
Setelah beberapa saat mencari teman seangkatan dan mencari posisi duduk, akhirnya diriku sadar bahwa tidak ada temen. Aku mikir : semuanya datang pas resepsi saja. Setelah duduk, lepas tas, lepas jaket, mengeluarkan handycam, mulailah merekam-rekam ria di posisi sekarang, sayap kanan gereja agak tengah.
Berikut adalah narasi, pikiranku dan komentar pribadi selama merekam di gereja :
(disarankan untuk membaca narasi sambil melihat hasil rekaman, yang bisa didownload di : sini. [ingat, ini rekaman pribadi, jangan disalahkan kalau ada sesuatu yang tidak berkenan])
| waktu |
narasi |
| 0:0 – 0:2 |
Begitu sampai di gereja, segera naik ke lantai 2, pakai kaos berkerah, dan cari tempat duduk. Celingak – celinguk beberapa saat, akhirnya menyadari kalau tidak ditemukan anak Van Lith yang lain. Duduk di bagian tengah rada kanan. Duduk, buka tas isi handycam, mulailah merekam. Pertama kali yang dilakukan : merekam waktu hape. Waktu menunjukkan pukul 9:21, yang artinya telat 1 jam 21 menit. Untung misa belum selesai. Pada kenyataannya, misa berlangsung selama hampir 3 jam. Jadi : untung telat!! |
| 0:2 – 0:45 |
Mencoba merekam suasana di depan altar. Sayangnya ada lighting petugas aslinya. Selain itu, tangan rada – rada gemetaran, gara – gara grogi atau baru nyampe ni??  |
| 0:45 – 1:49 |
Menemukan orang yang kalau dilihat – lihat mirip Erli, tapi tampangnya tua. Jadi kesimpulannya adalah saudara tuanya Erli. (*kesimpulan yang mudah*) |
| Gambar jalan salib bagus tapi berdebu.. |
| Merekam sisi gedung dari dalam sekilas. Komen : gedung gerja bagus dan besar |
| Melihat angka – angka lagu gereka. Angka kecil, yang berarti masih menggunakan madah bakti. MB di tahun 2008?? Wow |
| Tambahan gambaran : di tengah gereja, yang biasa merupakan jeda kursi tempat umat untuk berjalan masuk gereja dan menerima komuni, telah digelar karpet merah. Di situ ada bekas taburan bunga – bunga, yang artinya, upacara kedatangan mempelai berdua pasti OK, sayang kelewatan. Di tengah – tengah juga ada 2 tiang bersatu lengkungan yang berisi bunga – bunga. Tim dekorasinya lumayan komplit. |
| Dan ternyata, gereja katolik Wonogiri memiliki 3 tingkat! Kudus cuma 2. Huhu |
| 1:49 – 1:52 |
Mencoba untuk lebih fokus ke mempelai berdua. Saat itu, tidak berani maju ke depan. Jadi mungkin hasil shoot menjadi tidak bagus. Baru setelah misa berani maju ke depan. Gak PeDe bo!! Alasannya : 1. Orang – orang di depan punya dress code, yaitu adat awa. Kameramannya aja pakai batik. Lha aku : kaos oblong dirangkap kaos berkerah, jeans biru, untung pakai sepatu, dan belum mandi!! 2. Kalah massa. Waktu itu aku masih mengira sendirian di sana, tanpa ada teman VL yang lain. Kalau sampai kejadian diusir, habislah sudah (*hiberbol*) |
| 1:53 – 2:17 |
Sesi bagi – bagi cincin.. |
Sesi cium – ciuman.. (*argh, ciumnya ragu2 ni.. takut pecah makeup-nya *) |
| Keliatan kalau rambutnya Erli di cat hijau sebagian. Metal bo! Cocok dengan busana jawa kali ya? Ada penjelasan? |
| 2:17 – 2:41 |
Fokus ke mempelai berdua |
Entah sedang apa tu romonya.. Mo, jangan turun – turun mo..  |
| Shoot ke sekitar kanan dan kiri mempelai. |
| 3:01 – 3:13 |
Sungkem di kaki ayah ibu mertua dan kandung |
| 3:14 – 3:30 |
2 Misdinar cengar – cengir + nggosip : masuk tipi… |
| Balik ke sungkeman : anak hormat ke orang tuanya, orang tua dan mertua memberikan wejangan – wejangan pada anak – anaknya. |
| 3:31 – 3:34 |
Termasuk “ngolesin jidat” cara India. Aca aca aca…. Baru aja tahu kalau adat jawa juga ada yang begituan. Kirain India doank.. |
| 3:45 – 4:01 |
Selesai dengan orangtua yang pertama, pindah ke orang tua yang lain. |
Gandengan tangan selama proses berjalan. Komen : kaku! Grogi kali ya? Selama pacaran mungkin lebih luwes.  |
| Drama |
| Erli : eh kang mas kang mas, mbok aku ojo diseret – seret to.. |
| Mas Bekti : njih deh Erli, pujaan hati kangmas seorang.. |
| Argh!! Kameraman nutupin aja.. Pake celingak – celinguk pula.. |
| 4:02 – 4:19 |
Interior gereja. Komen : Enak lho, di gereja Wonogiri ini, tidak ada sandaran kaki untuk bersujud, alias berlutut. Jadi, tidak perlu capek. Aktivitas di gereja hanya berdiri, duduk, mendengarkan romo berkotbah, komuni dan nggegosip (lho?!?) |
| Gereja Wonogiri punya design seperti gedung bioskop. Semakin dekat altar semakin turun. |
| Acara sungkeman selesai. |
| Setelah acara sungkeman, posisi kangmas Bekti sudah berada mendampingi dek Erli di sisi kanannya. |
| 4:20 – 4:44 |
Prolog doa umat. 2 Wakil keluarga maju kemimbar lektor. Zooooommm! Yang memakai baju adat jawa warna kuning itu ternyata adeknya Erli. Ayo para jomblowan? (*guk guk guk…*) |
| 4:34 |
Melihat botak romo lebih jelas |
| 4:40 |
Lho… ada ibu – ibu maenan keris… Bahaya bu!! |
| 4:45 – 5:10 |
Misteri keris terpecahkan! Keris tersebut disematkan di bagian belakang mas Bekti. Entah apa artinya, mungkin pertanda mas Bekti sudah secara resmi jadi cowo tulen dengan istri… Tanpa “keris” bukan cowo donk?? *ember* |
Orang tua berbicara. Entah berbicara apa, tidak jelas dan tidak ada usaha untuk mendengarkan. Fokus ke adeknya Erli saja. |
| 5:10 – 5:14 |
Adeknya Erli baca doa umat |
| 5:14 – 5:18 |
Kejadian langka : Adeknya Erli ngupil! |
| 5:18 – 6:35 |
Lanjut ke doa umat. Fokus ke sisi kanan, kemungkinan perwakilan keluarga dari kangmas Bekti. |
Argh, ada kepala orang lewat, padahal sedang meniktmati..  |
| 6:35 – 6:55 |
Persembahan (Silau) |
| 6:56 – 7:28 |
Ampul. Pemberi ampul ternyata 2 perempuan cantik, yang doa umat tadi. |
| Kok ada 1 pria “ngintil” di belakang? Jangan – jangan ada yang sudah berkeluarga ni. Waspadalah! Waspadalah!! |
| Duh, ada adek gendut.. lucu… pengin jiwit pipi… |
| 7:29 – 7:31 |
Ekaristi berbagi 5 roti dan 2 ikan |
| 7:38 – 7:42 |
Melibatkan anak dan remaja untuk pengembangan umat |
| 7:45 – 8:45 |
Komuni |
| Saatnya hunting.. Tapi kok tua semua??? sial!! |
| Dan tiba – tiba terlihat ada mitha di sana.. |
| Ternyata, Mitha sudah ada di Wonogiri sehari sebelumnya. Bermalam di tempat kakak dan adik kelas Unika yang tinggal di Wonogiri. Secara kebetulan, adik kelasnya itu VL angkatan 14. Segrup rombongannya mulai dari yang baju hitam, belakang baju itu (8:25) sampai cowo di belakang Mitha. Ingat, cewek – cewek yang lewat tadi, semuanya sudah laku, saudara – saudara! |
| 8:46 – 9:18 |
Sepatah kata dari keluarga. |
| 09:00 |
Romo beserta 2 misdinarnya |
| 9:42 – 9:50 |
Gadis kecil yang lucu |
| 9:50 – 10:22 |
Akhirnya misa selesai juga, misa hampir 3 jam! |
| Romo bersalaman dengan keluarga |
| Mulai berani maju ke depan, karena misa sudah selesai |
| Full view ke mempelai berdua yang berjalan menuju ke patung bunda Maria untuk berdoa bersama. |
| 10:23 – 10:25 |
Kedua mempelai berdoa |
| 10:26 – 10:51 |
Selesai di sayap kanan, menuju ke sayap kiri gereja. |
| 10:52 – 11:02 |
Kedua mempelai bersama orang tua dari Erli. |
| 11:02 – 11:05 |
Salib, lilin, patung Bunda Maria dan tempat cincin. |
| 11:06 – 11:27 |
Kedua mempelai bersalaman dengan umat yang hadir |
| 11:27 – 11:43 |
Buku panduan misa |
| 11:44 – 12:12 |
Kedua mempelai bersama dengan keempat orang tua komplit. |
Komen : Erli kelihatan sumringah bo.. Mas Bekti kok kedip2 terus? Jadi mirip Q-yer??  |
| 12:12 – 12:18 |
Kedua mempelai bersama Romo |
| 12:18 – 12:23 |
Kedua mempelai bersama keluarga Erli + Romo |
| Shoot dari samping |
| 12:24 – 12:36 |
Kedua mempelai bersama dengan adik kandung / ipar |
| 12:36 – 12:51 |
Kedua mempelai bersama dengan keluarga Mas Bekti |
| 12:52 – 12:53 |
Kedua mempelai bersama dengan ? |
| 12:54 – 13:51 |
Bersalaman dengan koor & mudika |
| Cewe baju batik, yang pertama kali kelihatan, itulah adik kelasnya Mitha yang juga angkatan 14 |
| 13:51 – 14:20 |
Foto bersama |
| 13:56 |
Fokus ke 2 cowo terdepan |
|
Duh mudika Wonogiri : cantik – cantik dan ganteng – ganteng..  |
|
Kata spongebob : say Seaweed!!! |
| 14:21 |
Suasana gereja sudah berubah menjadi suasana resepsi |